Kamis, 30 Juni 2011

Pengklasifikasian Bakteri



Jumlah dan jenis bakateri sangat banyak. Untuk menentukan tata nama pada setiap jenis bakteri, para peneliti menggunakan dasar klasifikasi diantaranya 

1. Berdasarkan sifat umum 

Bakteri  merupakan organisme  bersel-tunggal yang bereproduksi  dengan cara sederhana,  yaitu  dengan pembelahan biner. Sebagian  besar hidup  bebas  dan mengandung  informasi  genetik dan memiliki sistem biosintetik dan penghasil energi yang penting untuk pertumbuhan  dan reproduksinya. Sejumlah  bakteri, bersifat parasit  intraseluler obligat contohnya  Chlamydiae  dan Rickettsiae. Dalam  beberapa  hal  bakteri berbeda  dari eukariot. Bakteri tidak  memiliki ribosom 80S maupun  organel bermembran, seperti  nukleus, mitokondria,  lisosom, retikulum endoplasma  maupun badan  golgi, bakteri   tidak memiliki flagela fibril 9+2 atau struktur  silia seperti pada sel eukariot. Bakteri  memiliki ribosom  70S dan kromosom sirkuler  tunggal (nukleoid) tanpa  sampul  yang disusun oleh asam deoksiribonukleat untai-ganda (DNA) yang bereplikasi secara amitosis. Jika terjadi pergerakan sering  disebabkan adanya struktur  flagela filamen-tunggal. Sejumlah bakteri  memiliki mikrofibril eksternal (pili atau  fimbria) yang berfungsi untuk menempel.  Mycoplasma tidak memiliki dinding sel, sedangkan eubakteria lainnya menghasilkan struktur sampul  dengan   susunan  senyawa  kimianya mirip peptidoglikan dinding sel. Eubakteria yang berdinding sel dan archaebakteria dapat berbentuk kokus (bola), basil  (batang), batang melengkung atau spiral. Struktur  kimia  sampul eubakteria  sering digunakan untuk membedakannya ke dalam kelompok  bakteri Gram-positif, Gram-negatif, dan “acid-fast” (tahan-asam). 

2. Berdasarkan konsep spesies  

Spesies bakteri didefinisikan secara deskriptif (fenotipik). Setiap macam bakteri dianggap sebagai suatu spesies, yang dibentuk dari kumpulan strain yang memberikan beberapa gambaran sangat berbeda dari strain lain. Suatu strain merupakan merupakan progeni atau subkultur dari isolat koloni tunggal dalam kultur murni. Spesies bakteri didefinisikan melalui (1) sifat struktural dari bentuk, ukuran, cara pergerakan, tahap istirahat, reaksi pewarnaan Gram, dan pertumbuhan secaramakroskopik, (2) sifat nutrisi dan biokimia, produk akhir dan informasi biokimia lain pada metabolit dan komponen seluler, (3) sifat  fisiologi relatif terhadap oksigen, temperatur, pH, dan respon terhadap zat antibakteri, (4) sifat ekologi dan (5) komposisi basa DNA, homologi, dan sifat genetik.

3. Berdasarkan konsep biovar (Biotipe Spesies/Strain) 

Kumpulan spesies bakteri terdiri dari strain-strain yang saling berhubungan tetapi berbeda  organisme, kadang-kadang disebut sebagai “cluster”. Dalam setiap kumpulan spesies atau “cluster”, suatu strain dipilih secara acak untuk menjadi wakil terbaik dari spesies tersebut. Strain ini disebut biotipe (atau biovar) dari spesies, dan sesudah itu sifatnya digunakan untuk menggambarkan spesies tersebut. Strain biotipe digunakan sebagai “strain referensi”, tersedia pada koleksi kultur seperti ”The American Type Culture Collection” (ATCC), Rockville, Maryland, USA. Strain biotipe tidak memperlihatkan semua sifat strain dalam kumpulan spesies. Oleh karena itu, penandaan subspesies, seperti serotipe (serovar), patotipe (patovar), morfotipe (morfovar), atau tipe faga (fagovar) kadang-kadang digunakan untuk menunjukan sifat tertentu dari variasi strain. Pada bakteri, tidak adanya kriteria gabungan definitif untuk penandaan spesies dapat difahami akibat variasi pada tingkat  dimana kelompok dipisahkan, bergantung pada gambaran peneliti, sebagai kolektor dan pemisah. Menurut kategori pemisah yang menandai setiap serotipe (serovar)  Salmonella sebagai suatu spesies dengan nama yang dimilikinya. Di pihak lain, pengumpul menandai serotipe individu sebagai jumlah tipe dalam spesies tunggal, contohnya, Klebsiella atau Streptococcus.